December 14th, 2010

LAPORAN PRAKTIKUM

PENYAKIT BENIH DAN PASCAPANEN

UJI BENIH DENGAN TEKNIK UJI METABOLIT SEKUNDER PADA BENIH KEDELAI, KACANG TANAH DAN PADI

Oleh :

1.Fiqi Syaripah             A34080047

2.Rizkika Latania A.                 A34080058

3.Nia Trikusuma N.                  A34080064

4.Sagita Phinanthie                    A34080090

5.Ciptadi Ahmad Y.                 A34080098

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

BAB I

PENDAHULAN

1.1 Latar Belakang

Benih merupakan produk komersil dengan nilai jual tinggi. Benih juga merupakan salah satu alat penularan patogen tanaman. Benih bermutu adalah benih yang baik dan bermutu tinggi yang menjamin pertanaman bagus dan hasil panen tinggi. Saat ini, benih bermutu dicerminkan oleh keseragaman biji, daya tumbuh, dan tingkat kemurnian yang tinggi.Syarat Benih bermutu harus memiliki enam kriteria, murni dan diketahui nama varietasnya, daya tumbuh tinggi (minimal 80%) dan vigornya baik, biji sehat dan dipanen dari tanaman tua, dipanen dari tanaman sehat, tidak terinfeksi oleh hama dan penyakit, bersih, tidak tercampur varietas lain, biji rerumputan, dan kotoran lainnya ( Balitbang, 2001). Untuk mendapatkan benih yang bermutu diperklukan uji benih. Uji benih dimaksudkan untuk mengetahui viabilitas benih serta kemungkinan terbawanya patogen di dalamnya. Pelaksanaan pengujian benih dilakukan dengan pengambilan contoh benih sebagai sampel, kemudian dilakukan pemurnian benih, dan kadar air, setelah itu dilakukan uji daya kecambah, uji kekuatan tumbuh benih, dan uji kesehatan terhadap benih tersebut. Patogen yang terbawa benih akan tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan tanaman tersebut. Uji lokasi dan uji metabolit sekuder akan dilakukan pada percobaaan kali ini.

Patogen bertahan pada benih di dalam bagian-bagian tertentu. Bagian – bagian benih terdiri dari 3 yaitu kulit,kotiledon, dan embrio. Patogen tular benih hidup pada salah satu bagian dari bagian benih tersebut. Lokasi patogen pada benih brgantung pada jenis patogen tersebut dan kebutuhan makanan masing-masing patogen. Metabolit sekunder adalah senyawa yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme. 

1.2       Tujuan

Mengetahui lokasi patogen pada benih kacang tanah dan kacang kedelai. Mengetahui pengaruh konsentrasi metabolit sekunder  yang dihasilkan cendawan Fusarium sp. terhadap viabilitas benih kedelai serta pengaruhnya terhadap penekanan timbulnya patogen terbawa benih pada media kertas blotter.

BAB II

BAHAN DAN METODE

2.1 Bahan dan Alat

2.1.1              Uji Lokasi

Peralatan yang digunakan dalam percobaaan kali ini adalah cawan petri, mikroskop stereo, pinset, dan kertas blotter. Bahan yang dipakai pada percobaan ini diantaranya benih kedelai,benih kacang tanah, klorox 1 %, kertas hisap/tissue dan air steril.

2.1.2              Uji Metabolit Sekunder

Peralatan yang digunakan dalam percobaaan kali ini adalah cawan petri gelas ukur, pipet mikro, pinset, saringan, shaker,mikroskop stereo dan kertas blotter. Bahan yang dipakai pada percobaan ini diantaranya benih kedelai, inokulum murni Fusarium sp. , dan air steril.

2.2 Metode

2.2.1              Uji Lokasi

Pertama dilakukan pencucian benih (kacang kedelai dan kacang tanah) dengan air steril. Selanjutnya benih direndam di dalam larutan klorox 1% selama 1 menit, lalu dibilas dengan air steril. Setelah itu benih direndam di air steril selam 30 menit agar mudah dipisahkan antara bagian kulit, kotiledon, dan embrio. Benih yang sudah direndam diangkat dengan pinsetdan diletakkan di atas kertas hisap. Bagian – bagian benih dipisahkan bagian kulit, kotiledon dan embrio dengan pinset. Masing-masing bagian benih diplatting pada kertas blotter di dalam cawan petri. Inkubasi dilalukan selama satu minggu dalam suhu ruangan dan selanjutnya dilakukan pengamatan patogen yang muncul.

2.2.2              Uji Metabolit Sekunder

Hal pertama yang harus dilakukan adalah isolasi cendawan Fusarium sp. dari benih ke media PDA (Potato Dextrose Agar) lalu dimurnikan. Selanjutnya inokulasikan  3 cork borrer isolat cendawan murni ke dalam media PDB (Potato Dextrose Broth) 100 ml. Inkubasi selama 1-2 minggu pada suhu ruang. Selanjutnya di shaker dan inkubasi dalam suhu 370 C. Lakukan penyaringan pada PDB dan ambil bagian supernatnya. Setelah itu dilakukan pembuatan larutan metabolit sekunder dengan konsentrasi 100%, 50%, 25% dan 12.5% dengan pengenceran berseri. Misalnya 100 ml metabolit diambil 50 ml lalu ditambahkan 50 ml air steril (konsentrasi 50%). Lakukan hal yang sama untuk mendapatkan konsentrasi yang diinginkan. Benih kacang kedelai direndam masing – masing 10 biji setiap konsentrasi selama 15 menit. Selanjutnya benih diplatting ke cawan petri yang telah dilapisi kertas blotter. Terakhir benih diinkubasi pada suhu ruang selama seminggu dan diamati viabilitas benih dan gejala yang nampak

Gambar 1. Konsentrasi Metabolit Sekunder yang

digunakan dalam praktikum.Konsentrasi 100%,

50%, 25% dan 12.5% (dilihat dari kiri ke kanan

secara berurutan)

BAB III

HASIL PENGAMATAN

3.1 Uji Metabolit Sekunder

Tabel 1. Data Metabolit Sekunder dengan jenis benih kelompok 1-2 kedelai,3-4 kacang tanah,5-7 padi

Konsentrasi Metabolit Sekunder
12.50% 25% 50% 100%
1 Terdapat cendawan pada permukaan benih dengan miselium warna putih dan spora warna hijau                                               Daya berkecambah 10% Terdapat cendawan pada permukaan benih dengan miselium warna putih dan spora warna hijau, benih menghitam                 Daya berkecambah 0% Terdapat cendawan pada permukaan benih dengan miselium warna putih dan spora warna hijau, benih menghitam                                                    Daya berkecambah 0% Terdapat cendawan pada permukaan benih dengan miselium warna putih dan spora warna hijau                                                  Daya berkecambah 0%
2 Terdapat spora warna hijau dengan miselium putih (Aspergillus sp.), benih menghitam                                      Daya berkecambah 0% Terdapat spora warna hijau dengan miselium putih (Aspergillus sp.),                                       Daya berkecambah 0% Terdapat spora warna hijau dengan miselium putih (Aspergillus sp.), benih menghitam                                      Daya berkecambah 0% Terdapat spora warna hijau dengan miselium putih (Aspergillus sp.), benih menghitam                                      Daya berkecambah 10%
3 Benih kusam, warna gelap, tumbuh cendawan dengan spora hijau dan miselium putih                                 Daya berkecambah 10% Benih coklat pucat dan terdapat miselium berwarna krem                          Daya berkecambah 0% Benih kehitaman dan terdapat miselium warna putih                                  Daya berkecambah 0% Benih pucat kekuningan dan terdapat miselium berwarna krem                             Daya berkecambah 0%
4 Terdapat cendawan dengan spora berwarna hitam dan hijau muda dengan miselium warna putih                            Daya berkecambah 0% Terdapat cendawan dengan spora berwarna hijau tua dan hijau muda dengan miselium warna putih                            Daya berkecambah 0% Terdapat cendawan dengan spora berwarma hijau muda dengan miselium warna putih                                  Daya berkecambah 0% Terdapat cendawan dengan spora berwarna hijau tua,ungu dan hijau muda dengan miselium warna putih                            Daya berkecambah 30%
5 Terdapat satu benih yang ujungnya berwarna hitam kelabu                              Daya berkecambah 10% Tidak ada gejala yang terlihat dan warna benih kuning dan normal                 Daya berkecambah 0% Tidak ada gejala yang terlihat dan warna benih kuning dan normal                     Daya berkecambah 0% Tidak ada gejala yang terlihat dan warna benih kuning dan normal                           Daya berkecambah 0%
6 Tidak menunjukkan gejala, benih padi tidak berkecambah dikarenakan media kurang lembab                                   Daya berkecambah 0% Tidak menunjukkan gejala, benih padi tidak berkecambah dikarenakan media kurang lembab                                   Daya berkecambah 0% Tidak menunjukkan gejala, benih padi tidak berkecambah dikarenakan media kurang lembab                                   Daya berkecambah 0% Tidak menunjukkan gejala, benih padi tidak berkecambah dikarenakan media kurang lembab                                   Daya berkecambah 0%
7 Benih berwarna gelap, terdapat cendawan dengan spora warna hijau                         Daya berkecambah 0% Benih berwarna coklat pucat, terdapat miselium warna putih                         Daya berkecambah 0% Benih berwarna kehitaman dan terdapat miselium berwarna putih                        Daya berkecambah 0% benih berwarna kuning pucat dan terdapat miselium warna krem                             Daya berkecambah 0%
Konsentrasi metabolit Awal Seminggu Setelah Perlakuaan Keterangan
100%
Benih yang berkecambah akan tetapi gagal karena busuk (menghitam)
50%
Benih menghitam
25%
Kumpulan cendawan dengan spora warna hijau muda (Aspergillus sp.)
12.50%
Miselium cendawan berwarna putih menyelimuti benih

3.2              Uji Lokasi

Tabel 3. Data Lokasi Patogen pada benih kedelai dan kacang tanah

Kelompok Lokasi Patogen
Kulit Kotiledon Embrio
1 Asperrgillus sp. = sporangiofor hialin dan soprangium hitam Mucor sp. = sporangium coklat kehitaman dengan bentuk kotak spora bulat X
2 Mucor sp. = sporangium hitam bentuk bulat tersusun rapi dan sporangiofor putih Penicillium sp. = sporangium waena hijau gelap                        Mucor sp. = sporangium hitam bentuk bulat tersusun rapi dan sporangiofor putih                                       Aspergillus niger = miselium putih dengan sporangium bentuk baling-baling dan tidak tersusun rapi (kribo) Koloni bakteri dengan warna coklat kekuningan
3 Mucor sp. = sporangium coklat kehitaman dengan bentuk kotak spora bulat                             Aspergillus sp. = sporangium berwarna hijau terang dan bergerombol                     Aspergillus niger = miselium putih dengan sporangium bentuk baling-baling dan tidak tersusun rapi (kribo) Aspergillus sp. = sporangium berwarna hijau terang dan bergerombol                               Xanthomonas sp. = Koloni bakteri berlendir dengan warna kuning                X
4 Curvularia affinis = warna hitam Aspergillus sp. = sporangium berwarna hijau terang dan bergerombol     X
5 Aspergillus sp. = sporangium berwarna hijau terang dan bergerombol     Aspergillus sp. = sporangium berwarna hijau terang dan bergerombol     X
6 sporangium berwarna hijau     Aspergillus niger = miselium putih dengan sporangium bentuk baling-baling dan tidak tersusun rapi (kribo) Bakteri dengan koloni berwarna coklat muda, berlendir dan mengeluarkan bau menyengat Terdapat miselium berwarna putih dan bakteri berwarna kecoklatan dan berlendir
7 Aspergillus niger = miselium putih dengan sporangium bentuk baling-baling dan tidak tersusun rapi (kribo)          Xanthomonas sp. = Koloni bakteri berlendir dengan warna kuning                Cendawan berwarna putih Aspergillus sp. = sporangium berwarna hijau terang dan bergerombol    

Tabel 4. Foto hasil pengamatan uji lokasi dengan mikroskop stereo

Lokasi Patogen Foto Keterangan
Kulit
Mucor sp. = sporangium bulat  hitam dengan sporangiofor warna putih tersusun rapi
Kotiledon
Mucor sp. = sporangium bulat  hitam dengan sporangiofor warna putih tersusun rapi             Aspergillus sp. = sporangium warna hijau muda bergerombol (kribo)
Embrio
Koloni bakteri berwarna coklat dan berlendir menyelimuti embrio kacang tanah

BAB IV

PEMBAHASAN

Gibson (1953), ditemukan. A. niger menyebabkan penyakit yang paling serius dari kacang tanah yaitu busuk mahkota. Demikian pula Jain & Neema (1952) melaporkan bahwa A. niger menghasilkan spot coklat melingkar pada kotiledon dan daerah ini berubah warna dengan cepat membusuk dan menyebar ke batang hipokotil.

Cendawan gudang memiliki kemampuan untuk menyerang benih pada kadar air yang rendah.Ciri umum dari cendawan gudang adalah mampu aktif pada kadar air benih berkeseimbangan dengan RH > 65%, umum terdapat pada bahan-bahan organik dan inorganik, dan terdapat dimana-mana di hampir setiap tempat di seluruh dunia. Cendawan gudang menyerang saat sebelum benih dipanen.dan segera setelah dipanen populasi akan meningkat serangan pun meningkat. Sumber  inokulum terdapat dimana-mana, diudara dan lain sebagainya damn ketika kondisi  sesuai maka meningkat dengan pesat.. Kondisi yang  dapat mempengaruhi perkembangan cendawan gudang adalah kadar air berkeseimbangan dengan RH >65%, suhu  lingkungan umumnya suhu optimum sekitar 300 - 32 0C, lama  penyimpanan, penyimpanan singkat serangan tidak masalah sedangkan penyimpanan lama akan menjadi masalah besar. Kerugian-kerugian yang ditimbulkan serangan cendawan gudang penurunan daya berkecambah, perubahan warna bagian/seluruh bagian benih terutama pada embrio, peningkatan panas karena respirasi, perubahan komposisi biokimia, terbentuknya toksin, dan penurunan berat (Anonim,2010).

M Hasil uji lokasi terlihat bahwa pada kacang tanah dan kacang kedelai pada bagian kulit di dominasi oleh cendawan gudang sebagai penghuninya. Cendawan gudang yang terlihat adalah genus Mucor, Aspergillus, dan terdapat satu jenis Curvularia affins. Dari hasil pengamatan juga terlihat adanya koloni bakteri yaitu bakteri genus Xanthomonas. Pada benih bagian kotiledon cendawan yang mendominasi cendawan gudang. Genus cendawan gudang yang mendominasi antara lain Mucor, Aspegillus, dan Penicillium. Bakteri dari genus Xanthomonas terdapat pada 1 cawan saja. Bagian embrio pada benih dominasi patogen yang muncul adalah jenis bakteri, Hal ini dikarenakan bakteri pada tanaman

Dari pengamatan uji metabolit sekunder terlihat bahwa daya perkecambahan paling tinggi adalah pada konsentrasi metabolit sekunder 100%. Dimana perkecambahan rata-ratanya 5.7%. Perkecambahan dengan rerata paling kecil adalah ketika konsentrasi metabolit sekundernya adalah 25% dan 50 % dengan rata-rata 0%. Konsentrasi metabolit sekunder paling kecil berdaya kecaambah sedang yaitu dengan rata-rata 4.2% hanya berbeda tipis dengan konsentrasi metabolit paling tinggi.

BAB V

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Pada uji lokasi hampir pada seluruh bagian benih dikontaminasi oleh berbagai jenis cendawan gudang terutanama bagian kulit biji dan kotiledon. Hanya pada bagian embrio yang rata-rata diserang oleh jenis bakteri. Pada uji metabolit sekunder terlihat keefektifan dari konsentrasi metabolit sekunder adalah dengan konsentrasi 100% walaupun hanya menunjukkan angka yang cukup kecil dari daya perkecambahannya.

4.2 Saran

Perlu adanya penelitian lebih mendalam tentang kondisi yang mempengaruhi adanya cendawan gudang dan tentang identifikasi jenis bakteri yang berada pada bagian embrio. Pada uji metabolit sekunder perlu penelitian dengan variasi konsentrasi metabolit sekunder yang lebih banyak sehingga lebih pasti mengetahui angka konsentarsi dari metabolit sekunder yang efektif sebagai imun dari benih tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Hama dan Penyakit Gudang. http://iirc.ipb.ac.id/ daikses tanggal [24 Oktober 2010].

Gibson, IAS 1953. Crown busuk, penyakit bibit kacang tanah disebabkan oleh Aspergillus niger. II. Sebuah Pengaruh anomali lincah biji perban-organo. Trans. Brit. Mycol.Soc:., 36 119-122

Jain, dan KG Neema AC. 1952 busuk. Aspergillus benih kacang tanah. Sci. & Cult -., 17: 348 349.

Resistensi Tanaman Padi terhadap Wereng Coklat

June 20th, 2010

Tanaman padi varietas tertentu dapat dikatakan tahan jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (1) memiliki sifat-sifat yang memungkinkan tanaman itu menghindar, atau pulih kembali dari serangan hama pada keadaan yang akan mengakibatkan kerusakan pada varietas lain yang tidak tahan, (2) memiliki sifat-sifat genetik yang dapat mengurangi tingkat kerusakan yang disebabkan oleh serangan hama, (3) memiliki sekumpulan sifat yang dapat diwariskan, yang dapat mengurangi kemungkinan hama untuk menggunakan tanaman tersebut sebagai inang, atau (4) mampu menghasilkan produk yang lebih banyak dan lebih baik dibandingkan dengan varietas lain pada tingkat populasi hama yang sama (Sumarno, 1992).

Tabel 1. Faktor-faktor ketahanan morfologi yang umum ditemukan pada tanaman Sumber : Norris dan Kogan, 1980.

Faktor-faktor    tanaman Pengaruhnya    terhadap serangga
Ketebalan dinding sel, peningkatan kekerasan    jaringan Gangguan pada makan dan mekanisme peletakan    telur
Pemulihan jaringan-jaringan yang terluka Serangga mati setelah pelukaan awal
Kekokohan dan sifat-sifat lain dari batang Gangguan pada makan, mekanisme peletakan    telur, dehidrasi telur
Pengaruh pada makan, pencernaan, peletakan    telur, daya gerak, menempel, pengaruh racun dan pengacauan oleh alelokimia    kelenjar rambut, halangan sebagai tempat tinggal
Rambut-rambut Pengaruh pada kolonisasi dan peletakan telur
Abrasi kutikula, hambatan makan
Akumulasi lilin pada permukaan Berbagai pengaruh
Kandungan silika

Pada percobaan kali ini didapatkan data yang menunjukkan terjadinya fluktuasi jumlah wereng yang cukup kontras. Jumlah awal peletakkan wereng coklat (Nilaparvata lugens) sama untuk setiap varietas tanaman padi yaitu enam ekor dengan harapan rasio kelamin 1:1. Terjadi kenaikkan populasi wereng pada minggu kedua dengan jumlah yang cukup banyak pada tanaman padi varietas TN 1 dan IR 64. Hal ini terjadi karena diperkirakan pada dua minggu sebelumnya wereng coklat (Nilaparvata lugens) telah melakukan kopulasi dan telur menetas pada minggu kedua. Penurunan jumlah wereng pada minggu ketiga dikarenakan tanaman padi varietas TN1 telah mati sehingga tidak tersedianya nutrisi yang dibutuhkan wereng coklat (Nilaparvata lugens) yang mengakibatkan jumlah wereng coklat (Nilaparvata lugens) pada minggu ketiga nol atau mati semua jumlah wereng pada tanaman padi varietas IR 64 masih hidup lima ekor karena tanaman padi varietas IR 64 belum mengalami kematian secara menyeluruh seperti halnya tanaman padi varietas TN 1 sehingga masih tersedia sedikit makanan bagi wereng coklat yang masih mampu bertahan hidup, sedangkan pada tanaman padi varietas PTB 33 jumlah wereng fluktuasi kenaikan dan penurunannya tidak kontras. Hal ini dikarenakan tanaman padi varietas PTB 33 merupakan tanaman resisten yang memiliki mekanisme antibiosis dan antisenosis yang menyebabkan wereng coklat (Nilaparvata lugens) mati. Padi tipe baru (PTB) memiliki sifat penting, antara lain (a) jumlah anakan sedikit (7-12 batang) dan semuanya produktif, (b) malai lebih panjang dan 1ebat (>300 butir/malai), (c) batang besar dan kokoh, (d) daun tegak, tebal, dan hijau tua, (e) perakaran panjang dan lebat. Potensi hasil PTB 10-25% tebih tinggi dibandingkan dengan varietas unggul yang ada saat ini (Irsal Las, B. Abdullah, dan Aan A. Daradjat. 2003). Jumlah anakan yang sedikit dan batang yang kokoh serta kuat merupakan mekanisme antisenosis yang tidak sesuai dengan bioekologi wereng coklat yang menyukai kelembaban dan menyulitkan wereng coklat untuk menusukkan rostrumnya ke batang tanaman padi varietas ini. Selain karena terjadinya mekanisme antibiosis dan antisenosis tidak seimbangnya nisbah kelamin juga dapat menjadi faktor tidak berkembang biaknya wereng coklat tersebut sehingga tidak terjadi kenaikan jumlah populasinya.

Selain dilihat dari jumlah wereng yang hidup dalam tanaman tingkat resistensi juga dapat diketahui dari bentuk fisik dan struktur jaringan tanaman akibat perilaku wereng coklat (Nilaparvata lugens) (Beck, 1965; Pathak, 1975). Gejala yang terlihat pada tanaman padi varietas TN 1 adalah tanaman mati pada minggu dengan daun berwarna coklat (hopperburn). Tanaman padi varietas IR 64 menunjukkan gejala hopperburn akan tetapi tidak seluruh bagian daun tanaman padi tersebut terbakar seluruhnya sedangkan pada tanaman padi varietas PTB 33 gejala yang ditunjukkan hanya hopperburn pada bagian batang yang tidak signifikan.

Penyakit Peanut Witches Broom pada Kacang Panjang

June 20th, 2010

Penyakit kerdil pada kacang panjang mempunyai beberapa sebutan, yaitu penyakit sapu, sapu setan dan pemyakit keriting Penyakit sapu yang disebabkan oleh fitoplasma merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman kacang-kacangan khususnya kacang panjang (Mamahit 1998).  Penyakit sapu pada tanaman kacang panjang gejala awalnya adalah terbentuknya proliferasi atau tunas, tidak menghasilkan polong atau polong hampa, pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk “sapu” dan jika serangan terjadi sangat parah tidak akan terbentuk biji.. Gejalanya tanaman tampak kerdil, daun-daun kecil melengkung ke bawah, bergelombang dan berwarna hijau tua (lebih gelap). Ruas batang pendek-pendek dan banyak tunas-tunas yg tumbuh di ketiak daun sehingga tanaman tampak rimbun dan terlihat seperti sapu. Penyakit ini menyebabkan tanaman kacang panjang tidak bisa berbuah meskipun mampu berbunga.

Fitoplasma  ini bisa ditemukan di pembuluh tapis pada jaringan floem. Perkembangbiakan mikroplasma berlangsung di dalam jaringan floem tersebut sehingga menyebabkan terganggunya fungsi floem. Di samping itu keberadaan Fitoplasma menyebabkan terganggunya keseimbangan hormon di dalam tumbuhan. Akibatnya pertumbuhan abnormal. Penyakit ini ditularkan oleh wereng Orosius argentatus.

Fitoplasma  tak berbudaya adalah yang seperti bakteri yang tidak memiliki dinding sel dan dengan habitat genom mereka terkecil di antara organisme hidup mereplikasi diri karena penurunan drastis genom dicapai melalui evolusi degeneratif. Organisme ini berbentuk bulat atau lonjong dan ada yg berbentuk benang sangat kecil (mikroskopis). Fitoplasma biasanya tidak membunuh singkat tuan rumah tanaman yang mereka metabolik kuat, namun kondisi dingin yang luar biasa mematikan tanaman terinfeksi, sementara dalam kondisi tropis tanpa gejala adalah keberadaan pabrik epidemiologi sering dengan konsekuensi berat. Mereka simbion obligat tanaman dan serangga vektor (leafhoppers) dan, dalam banyak kasus, membutuhkan keduanya host untuk penyebaran di alam (Oshima et al., Alam Genet 2004.,). Tambahan, fitoplasma melakukan penularan ke atau antar tanaman dengan melalui serangga penghisap floem, walaupun ada banyak vektor fitoplasma yang belum diidentifikasi. Selain itu, fitoplasma dapat ditularkan percobaan dengan tanaman tanaman menggetar parasit dan penyambungan bahan tanaman yang terinfeksi ke tanaman yang sehat.

Cara untuk pengendalian penyakit sapu ini terbagi menjadi dua yaitu pencegahan penyakit dan pengendalian setelah penyakit menyebar. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan pemilihan benih yang sehat dengan serangkaian uji benih. Selain itu jarak tanam dan pola tanam juga perlu diperhatikan untuk mengurangi populasi vektor dari fitoplasma tersebut. Jika ditemukan tanaman yang terserang penyakit sapu ini hal yang dapat dilakukan adalah dengan mencabut tanaman tersebut dan membakarnya agar fitoplasma tidak menyebar. Cara lain pengendalian penyakit ini adalah dengan mengendalikan vektor dari fitoplasma seperti kutu daun dengan insektisida kimia maupun nabati.

Berkeliling Jawa Barat Melihat Segala Aspek Pertanian

June 20th, 2010

Kunjungan pertama peserta migratoria adalah di sebuah pabrik benih tanaman sayur-sayuran dan hortikultura unggulan dan ternama di Indonesia yang berlokasi di daerah Purwakarta. Pabrik ini bernama East West Seed Indonesia. Pabrik ini mengeluarkan produk unggulan yang biasanya ditandai dengan logo panah merah. Pabrik ini juga memiliki kontribusi dalam menyelamatkan bumi yaitu dengan cara memberikan benih kepada sekolah di tingkat dasar untuk kemudian ditanam oleh siswanya.

Sebelum di pasarkan, benih melewati berbagai macam pengujian diantaranya : pengujian di atas kertas, pengujian di antara kertas, uji di atas pasir, uji kemurnian fisik, dan uji kadar air. Pengujian ini bertujuan agar benih yang dipasarkan adalah benih yang berkualitas tinggi dan memiliki daya berkecamabah mendekati 100 % serta mendapatkan hasil panen yang sesuai.

Benih yang di pasarkan juga diberi jaminan bebas patogen benih tertentu dengan sertifikasi dari Departemen Pertanian Indonesia. Untuk pengujian patogen pada benih dilakukan teknik  dengan nama Parameter lain yang dilakukan untuk memeriksa kesehatan benih dengan proses sebagai beikut : Pertama benih diambil ekstraknya lalu diletakkan pada media selektif dan dilihat patogen apa saja yang hidup. Minimum pengujian untuk patogen bakteri adalah sebanyak 40.000 biji sedangkan untuk cendawan adalah 400 biji. Hal ini dilakukan sebagai bentuk garansi yang diberikan PT. East West Indonesia kepada para pembeli benih.

Pengemasan produk PT. East West terbagi atas tiga kemasan yaitu pouch kecil, pouch besar dan kaleng. Perbedaan ukuran kemasan serta bentuk kemasan didasarkan atas keinginan pasar dan trend yang ada. Bahan dasar kemasan adalah alumunium dikarenakan aluminum paling rapat serta paling baik dalam mempertahankan kondisi benih.

Setelah selesai mengunjungi PT East West perjalan dilanjutnya menuju PTPN ( Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara ) VIII Jalupang yang berlokasi di Subang . PTPN ini menanam komoditas karet dengan luas lahan sekitar 4000 hectare. Tanaman karet dipilih sebagai komoditas utama pada PTPN ini dikarenakan berbagai alasan diantaranya tanaman karet tahan hujan deras dan toleran dengan patogen tertentu.

Hal yang dilakukan pertama kali saat kunjungan ke PTPN ini adalah mengidentifikasi berbai penyakit serta hama yang menyerang perkebunan karet di PTPN ini. Penyakit yang rata-rata menyerang tanaman karet adalah penyakit akar putih dan akar merah. Kedua penyakit ini disebabkan oleh cendawan Corinospora sp.  dan Colletotrichum gleosporioides. Penyakit dicegah sebelum proses penanaman benih. Hal ini dilakukan ketika proses penyemaian benih yang terken penyakit tidak akan ditanam dan langsung dimusnahkan. Akan tetapi sering muncul masalah karena pada saat persemaian daun menjadi inang patogen. Solusi yang dilakukan ketika TBM ( Tanaman Belum Menghasilkan) terserang patogen dengan menyemprot fungisida pada malam hari. . Mendeteksi serangan JAP (Jamur Akar Putih) pada tanaman karet. Menutup pangkal batang tanaman dengan mulsa pada awal musim hujan atau akhir musim hujan. Lakukan pengamatan 2-3 minggu setelah pemberian mulsa. Tanaman yang terserang JAP akan terlihat ada miselia(bercak) berwarna putih yang menempel pada pangkal akar. Menggunakan media dedak pupuk dengan perbandingan 4:1. Bahan dikemas dalam kantong plastik dan dikukus selama 2 jam. Setelah dikukus dihamparkan pada rak-rak kayu yang telah disiapkan dan ditutup dengan plastik untuk menghindari kontaminasi. Setelah dingin, tutup plastik dibuka sedikit ditambahkan 10 gram belerang untuk 10 kg media. Tutup kembali plastik, media sudah ditumbuhi Trichoderma 3 hari kemudian. Pengendalian JAP menggunakan Trichoderma dapat mengembalikan produksi secara normal, tidak mencemari lingkungan, cara aplikasi murah dan tidak mencemari lingkungan. Teknis pelaksanaan pengendalian dilakukan dengan urutan berupa: deteksi serangan JAP pada tanaman karet, perbanyakan Trichoderma untuk pengendalian, aplikasi Trichoderma kepertanaman, dan evaluasi terhadap hasil aplikasi.

Hama yang menyerang adalah jenis kumbang ( Exopolis sp ). Hama ini menyerang saat fase larva atau ulat yang menyerang pada bagian akar yang pada tahap selanjutnya akan menyerang jaringan pembuluh. Hama biasanya menyerang ketika musim kemarau. Solusi yang dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah denan penyemprotan insektisida. Penyemprotan kimia dilakukan secara lagsung akan tetapi hal ini tidak membahayakan karena hasil dari tanaman karet tidak dikonsumsi secara langsung oleh manusia.

Gulma juga menjadi masalah utama dalam perkebunan karet. Gulma dominan yang menyerang adalah alang – alang. Untuk menagatasi gulma tersebut dilakukan penanaman LCC ( Legum Cover Crops) ini adalah sejenis tanaman yang berperan aktif untuk menekan populasi gulma yang ada.

Sebelum mengakhiri kunjungan di PTPN VIII kami diberi kesempatan untuk berkeliling areal perkebuna dengan menggunakan truk tronton dengan jalur yang kurang baik menjadikan kunjungan ke PTPN lebih menyenangkan.